Jumat, 08 April 2016

Peka sama Kode, dong!

Jadi ceritanya itu, beberapa hari lalu aku mendapatkan bc (broadcast) bbm dari teman. Isinya yang jelas bukan jualan ataupun bc gak jelas, melainkan tentang mengingatkan kita agar PEKA.

PEKA dalam hal apa? Saat tidur malam, pernah gak sih kita kebangun gara-gara banyak nyamuk? Terus apa yang kita lakukan? Kebanyakan dari kita mungkin menyalakan obat nyamuk terus tidur lagi.

Atau juga, kebangun gara-gara ngerasa kedinginan. Lalu apa yang kita lakukan? Kebanyakan pun akan memakai selimut terus tidur lagi.

Atau bahkan, kebangun gara-gara mimpi buruk, terus ngeliat jam masih setengah 3. Akhirnya tidur lagi.

Sebenarnya pernah ngerasa gak, kalo itu sebenarnya kode dari Allah agar kita bangun buat sholat tahajjud? Kadang kita sebagai manusia ya lupa yang sebenarnya ngebangunin dari tidur itu siapa.

Memang, tempat tidur terasa begitu nyaman untuk ditinggalkan. Namun, sebenarnya ada hikmah dari meninggalkan tempat tidur untuk bangun sholat tahajjud. Selain manfaatnya yang begitu banyak, kita juga perlu tau, bahwa sebenarnya kita adalah 'tamu spesial' yang diperbolehkan oleh Allah untuk sholat tahajjud di sepertiga malam terakhir. Begitu banyak orang yang sedang tidur lelap di sepertiga malam terakhir itu, namun kita bersujud kepada Allah di saat itu juga. Sungguh nikmatnya apabila dirasakan sholat di waktu yang mustajab itu.

Seharusnya kita bersyukur telah dibangunkan pada sepertiga malam terakhir itu. Ya salah satu bentuk syukurnya itu dengan sholat tahajjud, dan ibadah-ibadah yang lainnya (baca Al-Qur'an, dzikir).

Berhusnudzon kepada Allah akan membuat kita lebih mudah buat bangun melaksanakan sholat tahajjud.

Intinya sih, Peka dong!

Kamis, 07 April 2016

Filosofi dari Meniriskan Mie Instan

Tepatnya pagi ini, saat matahari masih belum terbit, saat ayam masih belum bangun belum berkokok, ya sekitar jam 4 kurang. Aku dengan mata yang mengantuk yang masih kepikiran empuknya tempat tidur, bangun, membuat mie instan.

Sekitar 1 menit untuk membuat airnya mendidih lalu aku masukkan mie yang 3 menit kemudian aku matikan kompornya. Setelah itu, aku angkat panci mie tersebut untuk membuang airnya, atau mungkin lebih tepatnya meniriskan mienya.

Saat aku membuang air dari mie tersebut, ada beberapa potong mie yang ikut bersama air tersebut, ada yang pendek, ada juga yang agak panjang.

Ketika melihat itu, aku tersadar... Bahwa ada suatu pelajaran yang penting dari sana. Bila kita sendiri, maka kita bisa jadi mudah terbawa arus, entah itu arus yang buruk ataupun yang baik. Walaupun kita punya teman, namun bila teman kita juga mudah terbawa arus, maka kita pun juga bisa terikut mereka.

Ketika kita memiliki teman yang banyak dan hubungan kita dengan mereka cukup erat, maka kita tentu akan sulit terbawa arus yang lain. Dalam hal ini, kita bisa melihat 2 sisi yang berbeda. Di saat kita bersama dengan teman-teman atau sahabat-sahabat yang baik dan hubungan kita juga erat dengan mereka, maka kita akan sulit diajak untuk bermaksiat oleh orang. Namun di sisi yang lain, tidak mudah bagi kita untuk mengajak teman kita yang teman-temannya suka bermaksiat untuk kembali ke jalan yang lurus.

Oleh karena itu, seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tentang dampak dari berteman dengan orang yang baik dan orang yang buruk, tentu kita haruslah pandai-pandai dalam memilih sahabat. Bila teman kita buruk, sebaiknya kita bisa mengajaknya menuju kebaikan dan membuatnya menjadi orang yang baik yang tentunya akan berdampak baik bagi kita juga. Tentu sebaiknya kita berdoa kepada Allah dan berusaha agar selalu bersama dengan orang-orang baik yang mengajak kebaikan, dan juga kita mengajak teman-teman yang masih buruk agar menjadi baik.

Terkadang, saat meniriskan mie saja ada pelajaran berharga yang bisa dipetik. Padahal aku waktu itu lagi ngantuk-ngantuknya tapi masih sempat aja buat kepikiran hal seperti itu. Akhirnya mie tersebut aku makan.